Quarter Life Crisis: Bertahan di Usia 20-an di Tengah Tekanan Sosial dan Ekonomi

(sumber foto: pexels)


Dulu, waktu masih kecil, kita semua mendamba gelar "dewasa" seolah itu adalah tiket emas menuju kebebasan absolut. Saya pribadi membayangkan hidup tanpa jadwal tidur siang yang nista, bebas dari PR yang menyiksa, dan bisa kelayapan hingga adzan Maghrib tanpa ditemani omelan Mama. Betapa naifnya kita.

Menginjak usia puber, fantasi itu makin membuncah. KTP, SIM, rekening pribadi, kendaraan atas nama sendiri—semuanya terdengar seperti surga duniawi. Tapi begitu label dewasa itu benar-benar menempel, rasanya kok beda, ya? Bukannya bebas, justru napas terasa semakin sesak oleh deadline, ekspektasi, dan tagihan. Target-target yang dulu terlihat semudah membalik telapak tangan, kini berlumuran darah dan air mata untuk digapai. Dan sialnya, saya harus belajar berpelukan mesra dengan kegagalan, berulang kali.

Dulu, saya kira dewasa itu pesta pora tanpa henti. Ternyata, dewasa itu maraton tanpa garis finish yang jelas dan dengan jalur mendaki tak berujung. Melelahkan, kawan.

Usia 20-an, memang sih, ada sedikit kilau kebebasan di sana-sini. Tapi di sisi lain, ini panggung drama paling krusial yang menentukan mau jadi apa kita nanti. Salah langkah sedikit, bisa-bisa rencana hidup yang sudah disusun rapi langsung mental ke jurang. Akibatnya, saya jadi super hati-hati, penuh pertimbangan tingkat dewa, sampai kadang terlalu ciut untuk sekadar mengambil keputusan kecil tanpa overthinking. Ah, ternyata ini toh yang namanya quarter life crisis, yang katanya pasti menjangkiti anak muda usia 20-an.


Apa Itu Quarter Life Crisis?

Quarter life crisis, atau krisis seperempat abad, bisa dibilang momen plot twist di usia 20-an hingga awal 30-an. Ketika kita mendadak linglung, stres akut, dan diterpa badai ketidakpastian. Mulai dari urusan karier yang tak kunjung menemukan jodohnya, hubungan asmara yang karam di tengah jalan, sampai pertanyaan eksistensial, "Besok mau makan apa?"

Kalau kamu di usia ini dan sering diserang kecemasan akan masa depan, merasa jalan di tempat kayak odong-odong, atau melihat orang lain sudah ngacir jauh sementara kita masih di start line, selamat! Kita ada di klub yang sama.

Kenapa sih fase ini muncul?

Sebenarnya, kita sedang dalam transisi besar-besaran, bung. Dari yang tadinya cuma mikir nilai UAS, sekarang harus mikirin cicilan. Dari yang dulu cuma modal setor muka di sekolah dan semuanya ditanggung orang tua, sekarang mendadak dilempar ke rimba raya dunia nyata. Disuruh bertanggung jawab atas segalanya: mulai dari finansial yang bikin jidat berkerut, kesehatan mental yang seringkali minta ampun, sampai rencana masa depan yang kabutnya lebih tebal dari asap knalpot hitam.

Dan ironisnya, kalau tahu hidup dewasa serumit ini, kenapa dulu kurikulum sekolah tidak ada mata pelajaran "Survival Guide for Adulthood"? Kita diprogram untuk jadi juara kelas, tapi tidak diajari cara jadi manusia yang nggak gampang burnout. Sedikit lemah, dicap cengeng. Agak galau, dibilang kurang bersyukur. Terlambat punya ini-itu, langsung dicap pecundang.

Kalimat "Harusnya umur segini udah kerja tetap, nikah, punya rumah" itu sudah jadi soundtrack hidup saya—dan mungkin kamu juga—seolah ada standar kesuksesan yang dipatenkan oleh biro statistik gaib.


Tekanan Sosial dan Ekonomi yang Semakin Nggak Masuk Akal

Menghadapi ekspektasi keluarga dan masyarakat saja sudah bikin pingin teriak di puncak gunung, apalagi kalau ditambah realitas ekonomi yang jauh dari ideal. Harga rumah sekarang, itu bukan lagi harga, tapi HARGA. Gede banget, kawan. Biaya hidup? Naik terus tanpa permisi. Gaji kita? Seringnya cuma numpang lewat, jauh dari kata "hidup nyaman."

Menurut Bank Indonesia, lebih dari 60% anak muda Indonesia bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Angka ini bikin mimpi punya rumah di kota besar jadi lelucon pahit di tengah obrolan warung kopi.

Belum lagi predikat generasi sandwich. Kita ini pahlawan tanpa tanda jasa yang menghidupi diri sendiri sambil menanggung beban ekonomi keluarga. Bebannya jadi dobel, bahkan triple. Menghidupi diri sendiri saja sudah bikin kepala pening, apalagi harus memikul tanggung jawab orang lain seolah kita punya sumur uang tak berdasar.

Dan ketika saya mencoba "kabur sebentar" dari segala kegilaan itu dengan membuka media sosial, alih-alih menemukan ketenangan, yang ada malah rasa iri yang membuncah sampai ulu hati. Di sana, teman-teman sebaya sudah sibuk di KUA, pamer kunci rumah, atau traveling ke Eropa sambil posting foto-foto estetik.

Padahal, kami seumuran, sama-sama kerja. Tapi kenapa mereka seperti peluru kendali yang melaju pesat, sementara saya masih di trek siput?

Lalu muncullah bisikan setan di kepala saya, "Mungkin saya memang kurang kerja keras, kurang tirakat, kurang puasa Senin-Kamis."

Maka saya pun mulai memacu diri, memaksakan produktivitas yang membuat saya lebih mirip robot pemeras tenaga. Saya terjebak dalam toxic productivity, berpikir semakin sibuk berarti semakin bernilai. Istirahat? No, no, tidak boleh! Nilai diri saya diukur dari berapa banyak checklist yang terpenuhi. Sampai akhirnya, jasad dan jiwa saya menyerah. Saya mengalami burnout akut.


Ini Bukan Masalah Saya Saja—Ini Masalah Kita Semua

Setelah terombang-ambing di lautan quarter life crisis, saya akhirnya sadar, krisis ini bukan melulu karena saya kurang usaha, kurang disiplin, atau kurang syukur. Ini adalah konspirasi sistematis yang ikut membentuk tekanan nggak masuk akal ini.

Menurut Deloitte Global Millennial and Gen Z Survey, hampir setengah dari Gen Z sedunia merasa stres hampir setiap hari.

Mereka bukan kurang piknik, tapi hidupnya memang penuh jebakan Batman. Sementara itu, BPS melaporkan bahwa lebih dari separuh lulusan perguruan tinggi di Indonesia kesulitan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.

Ini bukti nyata kalau krisis ini bukan cuma tentang kegagalan individu, tapi juga cerminan dari sistem ekonomi dan sosial yang tidak ramah terhadap generasi muda. Lebih mirip ibu tiri yang kejam, sih.

Apalagi tren "sukses sebelum usia 30" yang lebih menakutkan dari film horor. Kita dipaksa lari kencang tanpa henti, tapi tidak diberi jeda untuk sekadar minum air. Kita diukur berdasarkan standar yang tidak mempertimbangkan titik start kita yang berbeda-beda—ada yang lari dari start line dengan Ferrari, ada yang dengan sandal jepit bolong.


Dari Krisis Menuju Kesadaran

Quarter life crisis ini, ternyata bukan bukti bahwa saya gagal menjadi dewasa. Justru, krisis ini adalah tamparan keras yang manis—momen untuk mempertanyakan kembali semua nilai yang selama ini saya telan mentah-mentah.

Apakah benar saya harus punya segalanya sebelum usia 30, seolah ada batas kadaluarsa untuk kebahagiaan?

Apakah benar bahagia itu hanya bisa diraih setelah punya rumah mewah, pasangan ideal, dan karier stabil yang bikin iri tetangga?

Saya menyadari, menjadi dewasa bukan berarti harus tahu segalanya. Terkadang, menjadi dewasa itu berarti cukup berani untuk mengakui bahwa saya masih manusia yang belajar. Bahwa saya boleh salah, boleh lelah, dan boleh berhenti sejenak untuk sekadar mengambil napas.

Kini, saya mulai menjalani hidup dengan lebih sadar dan pelan-pelan saja, lebih santai. Saya tidak lagi merasa harus selalu produktif sampai mata berkunang-kunang, selalu terlihat berhasil di mata netizen, atau selalu tampil sempurna bagai boneka manekin.

Hidup tidak harus ngebut seperti Valentino Rossi, tidak harus gemerlap seperti lampu kelap-kelip, dan tidak harus memuaskan semua orang. Yang penting, saya cukup, saya tumbuh, dan saya bahagia dengan ritme saya sendiri. Titik.

Komentar