Quarter Life Crisis: Bertahan di Usia 20-an di Tengah Tekanan Sosial dan Ekonomi
(sumber foto: pexels ) Dulu, waktu masih kecil, kita semua mendamba gelar "dewasa" seolah itu adalah tiket emas menuju kebebasan absolut. Saya pribadi membayangkan hidup tanpa jadwal tidur siang yang nista, bebas dari PR yang menyiksa, dan bisa kelayapan hingga adzan Maghrib tanpa ditemani omelan Mama. Betapa naifnya kita. Menginjak usia puber, fantasi itu makin membuncah. KTP, SIM, rekening pribadi, kendaraan atas nama sendiri—semuanya terdengar seperti surga duniawi. Tapi begitu label dewasa itu benar-benar menempel, rasanya kok beda, ya? Bukannya bebas, justru napas terasa semakin sesak oleh deadline , ekspektasi, dan tagihan. Target-target yang dulu terlihat semudah membalik telapak tangan, kini berlumuran darah dan air mata untuk digapai. Dan sialnya, saya harus belajar berpelukan mesra dengan kegagalan, berulang kali. Dulu, saya kira dewasa itu pesta pora tanpa henti. Ternyata, dewasa itu maraton tanpa garis finish yang jelas dan dengan jalur mendaki tak berujung. ...